Visitor

Sunday, October 6, 2013

Essay : Penerapan IQ, SQ dan EQ Dalam Dunia Pendidikan

                Kesuksesan atau keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan yang mereka miliki, tapi juga perlu adanya keseimbangan antara EQ (Emotional Quotient/aspek emosi), SQ (Spiritual Quotient/aspek religius) dan IQ (intelectual quotient/aspek kecerdasan) untuk mendapat hasil yang maksimal dalam kehidupan. Pada perkembangan saat ini, pola pembangunan SDM masih terlalu mengedepankan IQ tanpa melihat EQ dan SQ. Korupsi adalah salah satu contohnya dimana banyak pejabat-pejabat negara yang malah melakukan korupsi untuk pribadi maupun partai. Untuk bisa jadi pejabat tentu diperlukan lulusan pendidikan tinggi tapi tanpa melihat aspek EQ dan SQ yang dimiliki orang tersebut. Oleh karena itu, kondisi seperti diatas sudah waktunya untuk diakhiri, diganti dengan pendidikan yang menerapkan IQ, EQ dan SQ secara seimbang.
                 IQ (Inteleqtual Quetion) merupakan kecerdasan dalam hal kemampua kognitif seseorang yang biasanya terhubungan kemampuan memori otak. Dalam dunia pendidikan IQ mempunyai peran yang penting dalam hal penalaran memecahkan masalah tapi belum tentu orang yang mempunyai kecerdasan IQ yang tinggi dapat sukses dimasa depannya. Ini dikarenakan perlu adanya kontrol terhadap kemampuan IQ tersebut yakni diperlukan juga EQ dan SQ.
                EQ (Emotional Quetion) merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan perasaan individu sendiri. EQ dalam dunia pendidikan sangat diperlukan untuk mengontrol agar emosi individu siswa tidak sampai melebihi batasnya. Biasanya orang yang mempunyai IQ tinggi, cenderung mempunyai sifat EQ pendian atau tidak mau bersosialisasi dengan lingkungannya. EQ dapat dilatih dengan bersosialisasi dengan teman nya sehingga jika dia tidak mampu mengendalikan ada teman tersebut yang dapt memberi kontrol
                SQ (Spiritual Quetion) merupakan kecerdasan yang berhubungan dalam hal kepercayaan atau spritual pribadi. kecerdasan ini juga sangat penting dalam hal ketenagan jiwa sehingga antara IQ, EQ dapat ditenangkan dengan kecerdasan SQ sendiri.SQ sendiri dapat diperoleh dengan belajar dari guru spiritual masing-masing atau mempelajari kitab-kitab sesuai kepercayaannya sehingga orang tersebut dapat mencapat ketenangan dalam hal mencari ilmu atau yang lain.  SQ dalam pendidikan dapat mendorong lebih giatnya untuk belajar karena dengan adanya kecerdasan SQ yang tinggi akan menambah semangat belajar dan mempunyai tujuan hidup.
                Maka dapat disimpulkan orang dengan IQ tinggi ditandai cerdas menganalisa masalah teknis, EQ tinggi ditandai dengan kemampuan mengelola non-teknis, dan SQ tinggi ditandai dengan menyeimbangkan kebutuhan DUNIA-AKHIRAT. Jika salah satu diunggulkan, maka potensi yang lainnya akan dinomor duakan dan akibatnya, ketika ketiga faktor tersebut tidak memperoleh muatan perhatian yang sama. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam masalah serius, seperti jika lebih menonjolkan IQ dibandingkan yang lainnya, maka ia akan kehilangan kearifannya, contoh seperti Hitler. Jika lebih menonjolkan SQ dibandingkan yang lainnya, maka ia menjadi fanatik, ekstrim, seperti halnya banyak kejadian Jihad bom bunuh diri yang marak terjadi beberapa tahun belakangan ini. Dan jika lebih menonjolkan EQ dibandingkan yang lainnya, maka ia pandai merayu, menipu, dan lain sebagainya. Maka diperlukan adanya keseimbangan kecerdasan IQ, EQ dan, SQ untuk mencapai kesuksesan dalam dunia pendidikan atau non pendidikan. 

Read More

Thursday, October 3, 2013

ESSAY : Kurangnya Mahasiswa dalam Menulis KaryaI lmiah

 Download Versi Doc : DOWNLOAD

"Tidak Imbangnya Jumlah Karya Ilmiah dengan Jumlah Mahasiswa Indonesia"

Mahasiswa tentu tidak bisa lepas dari lingkungan ilmiah. Itu dikarenakan mereka memang berada dalam ruang lingkup keilmuan. Pada  posisi tersebut, mahasiswa dituntut untuk lebih sering membaca maupun menghasilkan sebuah karya tulis seperti menulis laporan praktikum, penelitian, karya ilmiah, dan  skripsi. Sayangnya  sampai sekarang ini, kemampuan menulis ilmiah oleh mahasiswa masih tergolong rendah. Hal itu Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Database, yakni terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah, sangat tertinggal jauh dari  Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931.

       Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya kemampuan menulis mahasiswa terutama dalam menulis karya ilmiah. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya minat membaca mahasiswa Indonesia. Membaca dan menulis tentu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mustahil seseorang bisa menulis kalau yang bersangkutan tidak suka membaca karena kedua kegiatan tersebut saling beriringan. Dimaksudkan  dengan membaca,  mahasiswa dapat menambah wawasan pengetahuan dan juga untuk menambah referensi untuk menulis karya ilmiah yang dikerjakannya.
Penyebab lain dari rendahnya semangat berkarya tulis dikarenakan kurangnya            penghargaan dari pihak perguruan tinggi maupun pemerintah terhadap sebuah karya anak bangsa. Hal itu dapat dicontohkan yang mana karya-karya B.J habibie lebih banyak di hargai di luar negeri di bandingkan di Indonesia. Sedangkan pada contoh kedua adalah seorang anak bangsa yang mati-matian membuat mobil yang inovativ yakni “Ferrari” Tucuxi malah di plagiat oleh pemerintahnya sendiri tanpa seizin pembuatnya. Dari sana dapat diambil kesimpulan bahwa pemerintah Indonesia kurang menghargai karya anak bangsa. Pemerintah Cuma tahu bagaimana bisa mendapatkan uang dari karya tersebut tanpa mengetahui bagaimana jerih payah sang pembuatnya. Pemerintah Indonesia lebih tahu hasil akhirnya tanpa mengetahui bagaimana proses pembuatannya dan bagaimana seseorang berjerih payah untuk mebuat karya itu sendiri.
Faktor lainnya juga  yang menyebabkan rendahnya kemampuan mahasiswa Indonesia dalam menulis karya ilmiah yakni  tugas – tugas dari dosen itu sendiri yang lebih diberatkan mahasiswa dari pada menulis karya ilmiah. Mahasiswa menanggapi negatif dan sering merasa terbebani dengan tugas dari dosen – dosennya. Sebenarnya  banyak perlombaan karya ilmiah yang dapat memancing minat mahasiswa untuk menulis karya ilmiah, tapi sayangnya lomba tersebut hanya diikuti oleh sebagian kecil dari jumlah mahasiswa yang ada. Rendahnya minat menulis atau mengikuti lomba menulis karya ilmiah tersebut mungkin dikarenakan sikap mahasiswa yang lebih menyukai pekerjaan yang ringan. Mereka sering melakukan hal-hal yang instan dalam kehidupannya di perguruan tinggi seperti perilaku menyalin sebuah tulisan dari karya orang lain tanpa mengikuti kaidah-kaidah dalam penulisan karya ilmiah adalah suatu contoh nyata dari kebiasaan instan tersebut

Maka dari itu, Setelah mengetahui fakta tentang bagaimana kemampuan karya tulis ilmiah mahasiswa Indonesia saat ini, seharusnya kita ikut tergerak untuk turut memperbaiki situasi tersebut. Tentunya harus dimulai dari diri kita sendiri seperti mulai membaca dan menulis. Hal tersebut sangat perlu ditumbuhkan dan dikembangkan dalam kehidupan mahasiswa di perguruan tinggi. Menulis karya ilmiah seharusnya menjadi budaya untuk menyebar luaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas. Dengan menulis mahasiswa akan dapat meningkatkan prestasinya dan juga dapat memberikan ilmu pengetahuannya kepada masyarakat luas.Selain meningkatkan kemampuan membaca dan menulis perlu juga didukung mengikuti perlombaan karya tulis ilmiah sebagai upaya untuk menguji serta menerapkan ilmu dan pengetahuannya. Dan yang terakhir perlu adanya dukungan dari luar yakni pemerintah sendiri. Pemerintah seharusnya bisa lebih mengahargai karya anak bangsa dengan memberikan penghargaan dan pekerjaan yang layak dengan gaji yang pantas, sesuai dengan apa yang dikerjakan. Dengan begitu, mahasiswa Indonesia lebih termotivasi untuk membuat tulisan karya ilmiah yang berkualitas international.
Read More

Monday, July 22, 2013

Penjelasan & Contoh Soal Aljabar Boolean

Download [Pdf] >>>> http://adf.ly/SerTR

Read More

Wednesday, March 6, 2013

KONSEP DASAR KURIKULUM PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN KEJURUAN


A.    Pendahuluan
Upaya memahami kurikulum bagi guru-guru di sekolah perlu memahami terlebih dahulu konsep dasar pemikiran perencanaan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan. Konsep dasar pemikiran perencanaan kurikulum pendidikan teknologi dan kejuruan ini mencakup tentang pengertian kurikulum, kurikulum dan pembelajaran, serta pendekatan yang perlu diperhatikan. Pendekatan tersebut akan diuraikan tentang pendekatan filosofis, pendekatan fungsional, pendekatan introspektif, dan pendekatan analisis tugas.

B.     Pengertian Kurikulum
Pengertian kurikulum dari para ahli telah banyak dikemukakan oleh para pakar kurikulum. Beberapa pakar yang penulis pilih yang kiranya dapat diterapkan dalam perencanaan kurikulum, seperti dikemukakan oleh Hilda Taba dalam diskusi tentang kriteria untuk pengembangan kurikulum yaitu ”A curriculum is a plan for learning”. Dia, mendefinisikan krurikulum tersebut dengan elemen-elemennya
yaitu :

“ All curricula, no matter what their particular design, are composed of certain elements. A curriculum usually contain a statement of ains and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demad them or because the content organization requires them. Finnaly, it includes a program of evaluation of the outcomes.”

Menurut Taba bahwa kurikulum adalah sebagai perencanaan untuk pembelajaran, tetapi selanjutnya dijelaskan bahwa kurikulum itu dilengkapi dengan maksud dan tujuan yang lebih spesifik yang adanya beberapa pilihan dan pengorganisasian pokok-pokok materi, juga secara tidak langsung tergambar pola belajar dan pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan dan rumusan yang diharapkan oleh para pengguna, di dalamnya termasuk program evaluasi dan hasil yang diharapkan dari lulusan sekolah yang bersangkutan.
Pengertian kurikulum yang dikemukakan Curtis R. Finch and John R.

Crunkilton (1984 : 9) :
”… curriculum may be defined as the sum of the learning activities and experiences that a student has under the auspices or direction of the school”.
Dari definisi kurikulum ini lebih memfokuskan pada peserta didik dengan memberikan sejumlah kegiatan dan pengalaman belajar yang diarahkan atas pengawasan sekolah.

Ronald C. Doll (1974 : 22)
mengemukakan definisi kurikulum pada perubahan penekanan pengalaman :
“The commonly accepted definition of the curriculum has changed from
content of cources of study and list of subjects and courses to all the
experiences which are offered to learned under the auspices or direction of the
school.”
Jadi, Doll lebih jelas menekankan perubahan pengalaman pada peserta didik itu akan
dimulai dari perencanaan pokok, sub pokok materi dan uraian materi yang disiapkan
untuk kegiatan pembelajaran yang ditujukan untuk pengalaman siswa belajar atas
bantuan atau pengarahan sekolah.

Ada pula yang mengemukakan bahwa kurikulum adalah penekanannya sebagai dokumen tertulis untuk perencanaan pendidikan atau pembelajaran para peseta didik, yang diberikan oleh sekolah. Pernyataan tersebut seusai dengan yang dikemukakan

Beauchamp (1968 : 6) : ”A curriculum ia a written document which
may content many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils
during their enrolment in given school”.

Apabila kita menyimak apa yang dikatakan Beauchamp, bahwa ia lebih menekankan kepada perencanaan yang terkomendasi secara formal, sehingga sekolah mempunyai acuan untuk mengembangkan di lapangan.

Menginterpretasikan pengertian kurikulum oleh para pakar pada realitanya ditentukan oleh keyakinan filosofisnya masing-masing, sehingga interpretasinya disampaikan memilikan perbedaan, seperti dikemukakan Oliva dalam bukunya berjudul ”Developing the Curriculum” sebagai berikut :
Curriculum is that which is taught in school.
Curriculum is a set of subjects.
Curriculum is content.
Curriculum is a program of studies.
Curriculum is a set of materials.
Curriculum is a sequence of courses.
Curriculum is a set of performance objectives.
Curriculum is a course of study.
Curriculum is everything that goes on within the school, including extraclass activities, guidance, and interpersonal relationships.
Curriculum is that which is taught both inside and outside of school directed by the  school.
Curriculum is everything that is planned by school personnel.
Curriculum is a series of experiences undergone by learners in school.
Curriculum is that which an individual learner experiences as a result of schooling.

Dari definisi yang dikemukakan terlebih dahulu dapat dimaknai bahwa ada yang mengartikan dengan cara yang sempit dan ada yang mengartikan dengan cara yang luas, tetapi yang penting yaitu bagaimana sekolah atau guru dapat mengembangkan dan mengimplementasikannya untuk keperluan peserta didik. Upaya guru mengembangkannya pada rancangan pembelajaran serta implementasi di kelas, laboratorium atau di lapangan merupakan bagian yang penting untuk memberi pengalaman yang berharga untuk para peserta didik sebagai bekal kelak mereka di lapangan kerjanya masing-masing atau bekal melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi, dan suatu saat juga akhirnya akan berkiprah kerja di keahliannya atau bidangnya masing-masing.

Pengertian kurikulum yang telah dipaparkan di atas dapat diaplikasikan untuk kurikulum dalam lingkup pendidikan teknologi dan kejuruan atau lebih umum diaplikasikan untuk kurikulum pendidikan kejuruan (vocational). Kurikulum pendidikan kejuruan merupakan suatu perencanaan tertulis yang lengkap mulai dari tujuan, silabus, kompetensi, kompetensi dasar, pokok bahasan, sub pokok bahasan, penentuan waktu, penilaian dan sumber bacaan. Dari kurikulum tertulis tersebut perlu dikembangkan menjadi kurikulum operasional, dapat berupa rancangan pembelajaran dan dilanjutkan dengan proses pembelajaran di mana guru berinteraksi dengan peserta didik yang dilengkapi dengan metode pembelajaran, media pembelajaran dan alat evaluasi yang memadai dan tepat, yang diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran peserta didik yang optimal sesuai bakat, minat dan potensi yang mereka miliki.
Memaknai pengertian kurikulum yang telah diuraikan yang diartikan secara luas, maka selain yang dipaparkan di atas khususnya dalam lingkup pendidikan kejuruan, maka akan termasuk di dalamnya yang terkait dengan bagaimana guru membimbing, membina, memotivasi di dalam kelas, laboratorium, maupun di luar kelas, seperti dalam kegiatan ektra kurikuler, hubungan interpersonal kepada para peserta didiknya. Dengan demikian dalam batasan-batasan kurikulum yang lebih mutakhir, khususnya untuk kurikulum pendidikan kejuruan adanya penekanan pada unsur peserta didik dan pengembangan potensinya.


B. Kurikulum dan Pembelajaran, serta Pendekatannya
1. Kurikulum dan Pembelajaran
       Kurikulum dapat dibedakan secara tegas dengan pembelajaran. Kurikulum merupakan semua yang terkait dengan pengalaman belajar peserta didik. Untuk pengalaman belajar peserta didik perlu ada tujuan pada kurikulum tersebut, deskripsi, silabus yang di dalamnya terdiri atas standar kompetensi, dan kompetensi dasar yang akan dicapai, pokok bahasan atau sub pokok bahasan, waktu yang diperlukan, buku sumber, dan penilaian. Dari kurikulum yang terdokumentasi atau tertulis ini harus ada kurikulum operasionalnya, yaitu yang pertama dari kurikulum tertulis tersebut dikembangkan oleh guru ke dalam rencana proses pembelajaran per pertemuan untuk setiap semester yang di dalamnya ada komponen tujuan umum dan tujuan khusus, pokok bahasan, sub pokok bahasan, uraian materi, metode dan media yang direncanakan, evaluasi yang akan dilakukan dan buku sumber yang dipakai.
       Kurikulum operasional yang berupa rancangan proses pembelajaran akan diimplementasikan ke dalam pembelajaran, sehingga terjadi interaksi antara guru dan peserta didik dalam sebuah proses pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar pada peserta didik agar mereka mendapatkan hasil dari proses pembelajaran berupa aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari aspek kognitif berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis, dan evaluasi, dari aspek afektif mencakup pengiriman, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, pembuatan pola hidup, dan kemampuan psikomotor meliputi persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, kreativitas. Hasil proses pembelajaran itu perlu dilakukan penilaian untuk mengetahui tingkat penguasaan aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor) dari pokok bahasan atau sub pokok bahasan suatu proses pembelajaran yang telah dilakukan.

Jadi, kurikulum itu ada kurikulum tertulis dan kurikulum operasional yang
berupa rancangan proses pembelajaran yang fokusnya pada peserta didik. Baik pada kurikulum tertulis maupun kurikulum operasional adalah untuik memberi pengalaman belajar pada peserta didik untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin. Pembelajaran lebih memfokuskan kepada proses pembelajarannya agar peserta didik mendapatkan pengalaman belajar untuk mengembangkan potensinya secara terarah dan lebih maksimal untuk mencapai hasil belajar yang maksimal pula sesuai yang diharapkan, yang akan tergantung tentang pokok bahasan/sub pokok bahasan atau materi apa yang dipelajarinya dalam proses pembelajaran yang bersangkutan atau dalam mata diklat atau mata pelajaran tertentu.

2. Beberapa Pendekatan
2.1 Pendekatan Filosofis
Pendekatan filosofis dalam pendidikan pada umumnya adalah pemikiran ahli filsafat yang diambil atau dipilih untuk dipakai dalam pendidikan, khususnya dalam perencanaan kurikulum. Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti ”love of wisdom” atau cinta akan kebijakan. Mempelajari filsafat untuk mengaplikasikannya dala kehidupan, khususnya dalam kehidupan sekolah yang dimulai dengan rancangan kurikulum. Rancangan kurikulum yang dilandasi pendekatan filosofis akan dapat membuat proses perancangan dan proses pembelajaran secara bijak, sehingga akan membekali peserta didik dengan ilmu, sikap, dan keterampilan yang mengarahkan kepada kehidupan peserta didik yang lebih baik yang aman sejahtera dalam kehidupan dan penghidupannya.
Rancangan kurikulum yang berlandaskan pendekatan filosofis berarti akan
diwarnai keyakinan mana yang dipilih mendasari kurikulum tersebut. Para perancang kurikulum perlu mempunyai kesepakatan apa yang diyakini tentang apa tujuan yang akan dicapai setelah peserta didik lulus dari sekolah yang bersangkutan. Sebagai contoh, jika diinginkan peserta didik setelah lulus dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, maka perlu disiapkan kurikulum sekolah yang luas dan komprehensif seperti dikemukakan oleh Edward J. Power (1982 : 87) ” the
curriculum of all school must be broad and comprehensive, …”. Untuk kurikulum
pendidikan kejuruan apabila diyakni harus menekankan penyesuaian peserta didik
dengan jenis pekerjaan yang ada di lapangan kerja, maka menurut Sukamto
(1988 : 91) : …, maka isi kurikulumnya bisa diramalkankan sangat didominasi oleh penumbuhan kemampuan-kemampuan transisional seperti bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, bagaimana mengatasi problem mobilitas pekerjaan, dan kemampuan berhubungan dengan sesama orang (human relation skill).
Pendidikan kejuruan terdiri dari beberapa jenis atau bidang keahlian, walaupun demikian sebagai landasan berpikir untuk kurikulum pendidikan kejuruan yang manapun relatif sama. Pendekatan filosofis ini akan dapat mengarahkan perancang kurikulum, tetapi penentuan isi kurikulum berlandaskan pemikiran filosofis selain mengandung konotasi kurang obyektif, sering mengalami kesulitan teknis dalam mengidentifikasi perangkat pemikiran filosofis yang komprehensif dan merupakan konsensus paling tidak di antara mereka yang terlibat dalam pendidikan teknologi dan kejuruan itu sendiri (Sukamto, 1998 : 92). Rancangan kurikulum pendidikan kejuruan yang dimaksud yang sesuai bidangnya masing-masing tetap memerlukan pemikiran dasar filosofis, sebagai upaya penentuan tujuan kurikulum dan isi kurikulum yang akan membekali peserta didik setelah mereka lulus. Keyakinan untuk merumuskan kurikulum perlu disepakati, sehingga betul-betul dapat memilih, menentukan pendekatan filosofis yang tepat, yang dipandang sebagai pemikiran dasar atau keyakinan yang tumbuh dari analisis konteks dunia pendidikan dan dunia kerja.

2.2 Pendekatan Fungsional
Apabila dalam pendekatan filosofis sebagai dasar pemikiran perancangan kurikulum akan dipengaruhi oleh keyakinan para perancang kurikulum terutama orang yang memiliki jabatan, atau orang yang disegani, tetapi dalam pendekatan fungsional akan lebih obyektif. Pada pendekatan fungsional akan didasari asumsi bahwa peserta didik yang belajar dalam lingkup pendidikan teknologi dan kejuruan perlu mempelajari fungsi-fungsi apa yang harus ada dalam rangka menjamin kelangsungan kerja dunia usaha atau dunia industri. Dari fungsi-fungsi yang ada akan dijabarkan kepada penampilan-penampilan peserta didik yang lebih luas yang terkait dengan tugas-tugas tertentu dalam dunia usaha atau dunia industri, yang selanjutnya indentifikasi tugas penampilan itu akan menjadi masukan bagi para perencanaan kurikulum.

Setiap jenis atau bidang keahlian dalam lingkup pendidikan kejuruan masing-masing tugas atau fungsi dalam dunia usaha atau dunia industri perlu diidentifikasi, dikelompokkan sesuai bidang pendidikan kejuruan, apakah pendidikan kejuruan ekonomi, kerajinan, tekstil, teknologi, pariwisata, pertanian, perikanan, dan sebagainya. Mengidentifikasi tugas-tugas dalam setiap bidang keahlian kejuruan ini akan lebih baik dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan dalam bidangnya masing-masing. Dapat dicontohkan identifikasi fungsi yang berkaitan dengan kelompok pariwisata bidang busana, seperti :

a. Membuat pola.
b. Memotong busana.
c. Menjahit bagian busana.
d. Finishing pembuatan busana.
e. Menghias busana.

Dari identifikasi fungsi-fungsi di atas di industri busana dapat dirinci lebih
spesifik lagi menjadi daftar kegiatan-kegiatan dari setiap fungsi, yang selanjutnya dikaitkan dengan setiap kompetensi atau keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan itu. Kompetensikompetensi yang dimaksudkan akan dirumuskan dalam bentuk kognitif, afektif, dan psikomotor dengan tingkat yang bervariasi. Kompetensi-kompetensi yang dirumuskan menurut klasifikasi tertentu yang akan membantu guru atau instruktur dalam menyusun pengalaman belajar atau kombinasi-kombinasi kegiatan belajar yang akan membantu peserta didik untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang dimaksud.
Kompetensi-kompetensi yang disusun itu harus disepakati oleh pihak industri, pihak sekolah dan pihak-pihak lain yang terkait untuk dikaji menyeluruh dan vertifikasi lanjut untuk ketepatan dan kelayakannya. Ungkapan di atas sepertinya menempatkan sekolah seolah ujung ketergantungan pada dunia industri atau dunia usaha dan sekolah penentuan kurikulum diorientasikan pada lapangan yang ada. Sekolah jangan dianggap sebagai kepanjangan tangan dunia usaha atau dunia industri dengan hanya mengidentifikasi fungsi-fungsi umum tersebut. Kompetensi-kompetensi umum untuk beberapa jenis pekerjaan yang termasuk ke dalam kelompok sejenis justru akan memberikan keluasan pilihan bagi peserta didik setelah mereka lulus dari program pendidikannya.
Dalam merancang kurikulum seperti ini mengandung konsekuensi proses yang
panjang sehingga memerlukan waktu yang cukup lama dan biaya yang cukup tinggi.

2.3 Pendekatan Introspektif
Pendekatan introspektif yaiu mendasarkan penentuan kurikulum pada hasil pemikiran perorangan atau kelompok, tetapi lebih difokuskan kepada mereka yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan, yaitu guru dan para administrator. Guru dan administrator adalah orang-orang yang terlibat langsung di lapangan, sehingga diharapkan mereka akan tahu persis apa yang selayaknya dimasukan sebagai isi kurikulum sekolah. Jadi, diperlukan orangorang yang dapat mengetahui, memahami, menghayati apa yang terjadi di lapangan dan bagaimana sebaiknya yang perlu ada dalam isi kurikulum yang nanti dapat diimplementasikan secara relatif mendekati kesempurnaan yang diharapkan untuk
memperoleh lulusan yang handal, dapat beradaptasi di lapangan.
Realisasi pendekatan introspektif akan dimulai mempelajari apa yang terjadi di lapangan yang sudah dilaksanakan, berjalan, dan dilengkapi dengan data program yang serupa yang ada di tempat lain sebagai bahan bandingan. Bahkan bandingan
itu, baik di negara kita sendiri atau dibandingkan dengan yang ada di negara lain walaupun hanya melalui literatur, dan apabila langsung survey tentu akan lebih konkrit, tetapi tentu konsekuensi pada dana. Selain itu perlu dipelajari katalog sekolah, laporan tahunan sekolah, melalui majalah atau jurnal sebagai bahan memperluas wawasan. Ini dilakukan para guru atau administrator sebelum mereka mengambil keputusan untuk masukan isi kurikulum yang dimaksud.
Guru dan administator yang dilibatkan dengan pendekatan introspektif
adalah guru dan administrator yang dalam realitanya terjun langsung di lapangan,
mengetahui atau merasakan persis apa yang dirasakan di lapangan bukan guru dan
administrator yang hanya duduk di meja tidak pernah melihat lapangan. Melihat lapangan berarti guru tersebut langsung membimbing praktik di laboratorium atau
langsung menjadi pembimbing pada peserta didik terjun ke lokasi industri atau dunia
usaha, sehingga para guru atau administrator tersebut menghayati betul apa kekurangan atau kelemahan yang terjadi pada peserta didik.
Untuk lebih memantapkan menentukan isi kurikulum, maka pendekatan
introspektif ini dapat melibatkan personalia dari industri atau dunia usaha sebagai
dewan penasihat kurikulum (curriculum advisory commite). Cara ini pun akan lebih
baik, sehingga akan lebih mendekatkan hubungan antara sekolah dan dunia kerja.
Cara ini pula dapat ditempuh melalui hubungan dekat atau pribadi dari guru atau
administrator, dan dengan pihak industri, pengusaha akan memberi peluang untuk
mendiskusikan masalah isi kurikulum dengan para pemakai tenaga lulusan dari pendidikan teknologi dan kejuruan untuk berbagai bidang keahlian. Hubungan pribadi ke arah positif antara pihak orang-orang yang ada di sekolah dan pihak dunia usaha dan dunia industri harus dijalin demi kepentingan yang lebih besar dari dunia pendidikan, khususnya dunia pendidikan teknologi dan kejuruan.

2.4 Pendekatan Analisis Tugas
Pendidikan teknologi dan kejuruan pada umumnya menerapkan pendekatan analisis tugas (task analysis), karena dari kajian tentang aspek-aspek perilaku yang didapatkan dari hasil penelitian dan buku panduan yang dikembangkan selama ini
atau beberapa tahun terakhir secara sistematis telah dijabarkan langsung dari deskripsi pekerjaan dan deskripsi tugas. Yang penting yang perlu diperhatikan sebelum proses penentuan isi kurikulum dengan pendekatan analisis tugas, sebelumnya perlu dipertegas tentang istilah-istilah yang sering dijumpai di literatur yang dapat menimbulkan kerancuan penafsiran di masyarakat.
Dalam keperluan analisis tugas dapat dibedakan antara istilah pekerjaan (job), kewajiban (duties), tugas (task), kegiatan (activity), pengoperasioan (operations) dan langkah-langkah (step). Digambarkan dari yang paling umum ke bagian yang paling terkecil, yang menurut Sukamto dapat digambarkan sebagai
berikut :
Gambar 1 Hierarki Analisis Pekerjaan Untuk Analisis Tugas (Sumber : Sukamto,
1988 : 99)

Dari analisis tugas digambarkan tersebut adalah analisis tugas yang lengkap. Apabila pekerjaan yang hanya terdiri dari beberapa langkah, maka kadang-kadang timbul kerancuan, karena semuanya ditafsirkan menjadi pekerjaan. Upaya menghindari hal tersebut yang penting hendaknya diingat bagaimana menggunakan
diagram dalam bagan untuk menganalisis suatu pekerjaan, misalnya

”… kalau suatu tugas tertentu dapat mewakili secara representatif suatu kewajiban suatu kewajiban (duty) tertentu, maka hendaknya dapat dimengerti kalau dalam kasus tersebut kewajiban dan tugas menjadi suatu pengertian dan istilahnya dipakai atau
dipertukarkan satu sama lain” (Sukamto, 1988 : 101).

Melaksanakan analisis tugas yaitu dilaksanakan kepada pekerjaan yang
betul-betul sudah menduduki jabatan atau pekerjaan di tempat kerja, jadi bukan
pengadaian atau teori, tetapi benar-benar nyata ada pada realisasinya, sehingga
Pekerjaan merupakan data obyektif yang dapat diandalkan kebenarannya. Yang penting diperhatikan pula pada analisis tugas yaitu ketelitian dan kecermatan dalam inventarisasi dan pengolahan data, yang pada umumnya sulit melaksanakannya karena memakan waktu yang lama dan berimbas pada ketersediaan dana. Pada negara yang belum maju kondisi itu belum dilaksanakan, karena terbentur dana yang tersedia relatif kecil.
Sistematika atau urutan kerja akhirnya akan menentukan logika penjabaran untuk satuan kegiatan-kegiatan belajar yang nanti akan diselenggarakan di sekolah masing-masing. Jadi, analisis tugas ini diperlukan ketelitian dan kecermatan banyak orang yang terlibat dengan jumlah data yang diperlukan sangat banyak. Saat melakukan
analisis tugas penting diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut yaitu :

1) Melakukan kajian literatur dan informasi yang relevan.
2) Mengembangkan inventori pekerjaan atau jabatan.
3) Memilih sampel atau contoh pekerjaan sebagai sumber data.
4) Melaksanakan survei atau penelitian di lapangan.
5) Menganalisis hasil survei untuk dijabarkan menjadi kurikulum dan
kegiatan belajar di sekolah.
Read More

DDL, DML, dan DCL pada DATABASE



     1.     DDL
(Data Definition Language) merupakan  perintah dasar untuk membangun kerangka database . Dimana Terdiri dari perintah-perintah untuk membentuk, mengubah atau menghapus tabel beserta kolom-kolom dan type data penyusunnya, serta perintah-perintah untuk menetapkan hubungan dan batasan-batasan data.

 Beberapa Perintah DDL :
a.      CREATE : Perintah ini digunakan untuk membuat, termasuk diantaranya membuat database baru, tabel baru, view baru, dan kolom.
à Sintak :
CREATE TABLE ms_karyawan (
kode_cabang varchar(10) default NULL,
kode_karyawan varchar(10) NOT NULL,
nama_depan varchar(8) default NULL,
nama_belakang varchar(9) default NULL,
jenis_kelamin varchar(1) default NULL,
PRIMARY KEY (kode_karyawan)
)

b.      ALTER : Perintah ini digunakan untuk mengubah struktur tabel yang telah dibuat. Pekerjaannya mencakup mengganti nama tabel, menambah kolom, mengubah kolom, menghapus kolom, maupun memberikan atribut pada kolom.
à Sintak : alter table akademik add email varchar (25);

c.       DROP : Perintah ini digunakan untuk menghapus database dan tabel
à Sintak : Drop table mahasiswa;

d.       TRUNCATE : Perintah untuk membersihkan isi table
à Sintak: Truncate table mahasiswa;

e.       COMMENT : Perintah untuk memberikan keterangan atau komentar dalam kamus data 

f.        RENAME : Perintah untuk mengganti nama table/ relasi
à Sintak: Rename table nama_table to nama_tabel baru;

g.       DESC  : Perintah Untuk melihat struktur table secara detail.
à Sintak: DESC buku;

h.      EXPLAIN : Fungsinya sama seperti DESC yaitu untuk menampilkan struktur
à Sintak: EXPLAIN BUKU_KEREN;

i.         SELECT LOWER : Fungsinya untuk mengubah string menjadi huruf kecil (lower case)
à Sintak: SELECT LOWER (“PENGARANG”);

j.         SELECT UPPER: Fungsinya untuk mengubah string menjadi huruf kapital (upper case)
à Sintak:SELECT LOWER (“pengarang”);

     2.     DML
(Data Manipulation Language)Data manipulasi bahasa yang digunakan untuk membaca dan memodifikasi/memanipulasi data
Beberapa perintah DML :
a.      INSERT :
perintah ini digunakan untuk menyisipkan atau memasukkan data baru ke dalam tabel. Penggunaannya setelah database dan tabel selesai dibuat.
Sintak :
insert into mahasiswa (npm,nama,alamat)
values('123456','budi',jl raya plp');

b.      SELECT :
Perintah ini digunakan untuk mengambil data atau menampilkan data dari satu tabel atau beberapa tabel dalam relasi. Data yang diambil dapat kita tampilkan dalam layar prompt MySQL secara langsung maupun ditampilkan pada tampilan aplikasi.
Sintak :
select * from mahasiswa; (perhatian : tanda '*' untuk menyeleksi semua data dalam table )
select alamat from mahasiswa;

c.       UPDATE :
Perintah ini digunakan untuk memperbaharui data lama menjadi data terkini. Jika anda memiliki data yang salah atau kurang Up To Date dengan kondisi sekarang, maka dapat diubah isi datanya dengan menggunakan perintah UPDATE.
Sintak :
update mahasiswa set nama = 'udin'
where npm = '245435',;

d.      DELETE :
Perintah ini digunakan untuk menghapus data dari tabel. Biasanya data yang dihapus adalah data yang tidak diperlukan lagi. Pada saat menghapus data, perintah yang telah dijalankan tidak dapat digagalkan, sehingga data yang telah hilang tidak dapat dikembalikan lagi.
Sintak :
delete from mahasiswa; (untuk semua data yang ada di table)
------------------------------------------------------------
delete from mahasiswa
where npm='334553'; (untukm menghapus satu data dalam table)

e.       MERGE
penggabungkan update,insert,delete pada suatu table berdasarkan kondisi yang cocok (untuk : oracle)

f.       EXEC
untuk memanggil prosedur yang telah kita buat

      3.      DCL
Merupakan perintah-perintah yang dapat digunakan untuk menjaga keamanan basis data, perintah tersebut dapat dipakai untuk menentukan akses basis data hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu dan dengan macam akses yang dibatasi pula.
Beberapa Perintah DCL :
a.      GRAND : Perintah ini digunakan untuk memberikan hak / izin akses oleh administrator (pemilik utama) server kepada user (pengguna biasa). Hak akses tersebut berupa hak membuat (CREATE), mengambil (SELECT), menghapsu (DELETE), mengubah (UPDATE) dan hak khusus berkenaan dengan sistem databasenya.
b.      REVOKE : perintah ini memiliki kegunaan terbalik dengan GRAND, yaitu untuk menghilangkan atau mencabut hak aksesyang telah diberikan kepada user oleh administrator.
Read More